Senin, 27 April 2015

#BeraniLebih Berusaha untuk Menjadi Seseorang

Sempat tersirat keraguan saat aku mulai memasuki bangku kuliah. Semua itu mungkin karena aku merasa tak seberuntung mahasiswa lain yang punya fasilitas-fasilitas yang mereka butuhkan untuk kuliah. Padahal aku adalah mahasiswa yang kuliah di jurusan komputer, tentunya setiap hari selalu berkutat dengan benda-benda yang bernama leptop, PC, atau sejenisnya untuk menunjang belajarku.

Pakaian mahal, tas bermerek, hp canggih keluaran terbaru, leptop dengan spek yang bagus, sudah menjadi pemandangan yang biasa di kampus swasta tempat kuliahku sekarang. Hal yang umum dimiliki semua mahasiswa di kampusku terkecuali pada beberapa orang termasuk aku. Tapi semua itu tak membuatku silau dan patah arah untuk blajar disana. Justru dari situlah aku mulai berjanji pada diriku sendiri, semua keterbatasan ini bukanlah halangan bagiku untuk belajar. Aku yakin, dengan kesederhanaan yang aku miliki tidak akan membatasiku untuk meraih prestasi asalkan ada keyakinan dan kemauan untuk berusaha.

Pada awal-awal semester tak sedikit teman di kelas yang mengacuhkanku. “Sabar”, kata itu selalu aku tanamkan dalam hati dan mengingat tujuanku disini. Belajar, belajar dan belajar itu yang harus aku ingat. Merasa berbeda dengan mereka mungkin adalah suatu kewajaran. Tapi tak apalah kuacuhkan saja, bayang-bayang wajah orangtuakulah yang selalu menjadi penyemangatku. Semangat dan perjuangan mereka untuk membiayai kuliahku disini bukan dengan biaya yang murah bahkan harus banting tulang pula. Semua itu harus bisa aku bayar walaupaun hanya dengan memberikan sedikit kebahagiaan untuk mereka, itu tekadku.

Tak sia-sia semua usahaku ini ada hasilnya, semester 1 ini aku mendapatkan indeks prestasi yang cukup memuaskan dan ternyata tertinggi di kelas, syukurlah. Melihat kejadian tersebut teman-teman kelasku mulai menerima keberadaanku, bahkan tak jarang mereka mengajakku untuk bergabung belajar bersama untuk menjadi  tutor mereka. Begitulah seterusnya indeks prestasiku tiap semester mengalami peningkatan dan konstan di angka 4.

Kedua orangtuaku ikut merasa bahagia dengan prestasi yang aku dapatkan di kampus. Semua ini tak pernah disangka-sangka sebelumnya hingga aku dapat diwisuda dalam waktu 3,5 tahun saja, apalagi dengan penghargaan sebagai mahasiswa lulusan terbaik, itu menjadi kado terindah dalam hidupku. Rasanya bahagia sekali bisa melukis senyum indah di wajah mereka, orang yang sangat aku cintai. Walaupun aku belum bisa membahagiakannya dengan uang, mereka sangat bahagia dengan pencapaianku sekarang.

Hidup dalam keluarga sederhana membiasakanku untuk selalu belajar menerima apa pun yang terjadi. Takdir hidup membuatku #BeraniLebih menerima semua apa yang Tuhan berikan. Mungkin kita bisa belajar dari kalimat ini, yaitu kata-kata dari Ayah yang selalu aku ingat, beliau pernah mengatakan “Jika orang lain yang memberitahumu kau akan lupa, tapi jika keadaanlah yang memberitahumu maka kau akan ingat selamanya”. Darinya aku belajar, pesan yang beliau maksud adalah jika keadaan yang mengajarkan, maka akan selalu teringat oleh kita sampai kapanpun.

Yach.. inilah aku yang apa adanya, sederhana tapi #BeraniLebih berusaha untuk menjadi seseorang. Dan aku bersyukur dengan semua yang aku miliki. Aku tak pernah menyesal telah dilahirkan ditengah-tengah keluarga yang sederhana, karena di dalamnya selalu ada cinta dan kasih sayang yang tulus.

Kesederhanaan dan keterbatasan yang ada bukanlah hal yang bisa membatasi kita #BeraniLebih berbuat sesuatu untuk menjadi seseorang yang kita inginkan.
Twitter : @kimmyenafasya





Tidak ada komentar:

Posting Komentar