Sempat tersirat keraguan saat aku
mulai memasuki bangku kuliah. Semua itu mungkin karena aku merasa tak
seberuntung mahasiswa lain yang punya fasilitas-fasilitas yang mereka butuhkan
untuk kuliah. Padahal aku adalah mahasiswa yang kuliah di jurusan komputer,
tentunya setiap hari selalu berkutat dengan benda-benda yang bernama leptop,
PC, atau sejenisnya untuk menunjang belajarku.
Pakaian mahal, tas bermerek, hp
canggih keluaran terbaru, leptop dengan spek yang bagus, sudah menjadi
pemandangan yang biasa di kampus swasta tempat kuliahku sekarang. Hal yang umum
dimiliki semua mahasiswa di kampusku terkecuali pada beberapa orang termasuk
aku. Tapi semua itu tak membuatku silau dan patah arah untuk blajar disana.
Justru dari situlah aku mulai berjanji pada diriku sendiri, semua keterbatasan
ini bukanlah halangan bagiku untuk belajar. Aku yakin, dengan kesederhanaan
yang aku miliki tidak akan membatasiku untuk meraih prestasi asalkan ada
keyakinan dan kemauan untuk berusaha.
Pada awal-awal semester tak sedikit
teman di kelas yang mengacuhkanku. “Sabar”, kata itu selalu aku tanamkan dalam
hati dan mengingat tujuanku disini. Belajar, belajar dan belajar itu yang harus
aku ingat. Merasa berbeda dengan mereka mungkin adalah suatu kewajaran. Tapi tak
apalah kuacuhkan saja, bayang-bayang wajah orangtuakulah yang selalu menjadi
penyemangatku. Semangat dan perjuangan mereka untuk membiayai kuliahku disini
bukan dengan biaya yang murah bahkan harus banting tulang pula. Semua itu harus
bisa aku bayar walaupaun hanya dengan memberikan sedikit kebahagiaan untuk
mereka, itu tekadku.
Tak sia-sia semua usahaku ini ada
hasilnya, semester 1 ini aku mendapatkan indeks prestasi yang cukup memuaskan
dan ternyata tertinggi di kelas, syukurlah. Melihat kejadian tersebut
teman-teman kelasku mulai menerima keberadaanku, bahkan tak jarang mereka
mengajakku untuk bergabung belajar bersama untuk menjadi tutor mereka. Begitulah seterusnya indeks
prestasiku tiap semester mengalami peningkatan dan konstan di angka 4.
Kedua orangtuaku ikut merasa
bahagia dengan prestasi yang aku dapatkan di kampus. Semua ini tak pernah
disangka-sangka sebelumnya hingga aku dapat diwisuda dalam waktu 3,5 tahun
saja, apalagi dengan penghargaan sebagai mahasiswa lulusan terbaik, itu menjadi
kado terindah dalam hidupku. Rasanya bahagia sekali bisa melukis senyum indah
di wajah mereka, orang yang sangat aku cintai. Walaupun aku belum bisa
membahagiakannya dengan uang, mereka sangat bahagia dengan pencapaianku
sekarang.
Hidup dalam keluarga sederhana
membiasakanku untuk selalu belajar menerima apa pun yang terjadi. Takdir hidup
membuatku #BeraniLebih menerima semua apa yang Tuhan berikan. Mungkin kita bisa
belajar dari kalimat ini, yaitu kata-kata dari Ayah yang selalu aku ingat,
beliau pernah mengatakan “Jika orang lain
yang memberitahumu kau akan lupa, tapi jika keadaanlah yang memberitahumu maka
kau akan ingat selamanya”. Darinya aku belajar, pesan yang beliau maksud adalah
jika keadaan yang mengajarkan, maka akan selalu teringat oleh kita sampai kapanpun.
Yach.. inilah aku yang apa adanya, sederhana
tapi #BeraniLebih berusaha untuk menjadi seseorang. Dan aku bersyukur dengan
semua yang aku miliki. Aku tak pernah menyesal telah dilahirkan ditengah-tengah
keluarga yang sederhana, karena di dalamnya selalu ada cinta dan kasih sayang
yang tulus.
Kesederhanaan dan keterbatasan yang
ada bukanlah hal yang bisa membatasi kita #BeraniLebih berbuat sesuatu untuk menjadi
seseorang yang kita inginkan.
FB: Nafasya Ulva
Twitter : @kimmyenafasya
